Widyatama Hadirkan Inovasi Seni Nusantara Melalui Longser Kontemporer

Universitas Widyatama kembali menunjukkan komitmen serius dalam memajukan kebudayaan melalui Inovasi Seni Nusantara. Kali ini, langkah strategis tersebut diwujudkan lewat kolaborasi apik dengan Yayasan Kebudayaan Bandoeng Mooi (YKBM) dalam sebuah pagelaran seni tradisi yang tidak biasa. Bertempat di ruang publik modern, Cimahi Mall (Lantai 2), Jalan Gandawijaya, Sabtu (6/12/2025), tim dosen universitas berhasil menyulap pusat perbelanjaan menjadi ruang dialektika budaya yang hidup.

Acara ini bukan sekadar hiburan akhir pekan, melainkan implementasi nyata dari hibah Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) tahun pendanaan 2025. Didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kemendikbud Ristek, kegiatan ini menegaskan posisi universitas sebagai menara air yang mengalirkan manfaat keilmuan langsung ke tengah masyarakat.

Transformasi Tradisi di Ruang Publik

Membawa seni tradisi keluar dari gedung kesenian eksklusif menuju ruang publik adalah tantangan yang dijawab oleh Tim PISN Universitas Widyatama. Tim yang diketuai oleh Andhi Sukma, bersama anggota Murnawan, Deden Maulana Anggakarti, dan Ucu Nugraha, merancang konsep pertunjukan yang adaptif. Mereka menghadirkan Longser bertajuk “Nyi Ronggeng”, Helaran Bangbarongan “Munding Dongkol”, serta seni pantomim.

Inisiatif ini bertujuan memperluas akses publik terhadap kekayaan seni Sunda. Lebih jauh lagi, universitas mendorong konsep wisata berbasis budaya atau edutourism. Melalui pendekatan ini, institusi berupaya membuktikan bahwa Inovasi Seni Nusantara dapat menjadi daya tarik wisata edukatif yang relevan dengan perkembangan zaman.

Ketua YKBM, Hermana HMT, menjelaskan bahwa pagelaran ini merupakan fase evaluasi sekaligus promosi dari rangkaian panjang proses kreatif yang telah berjalan sejak September 2025. Hal ini menunjukkan bahwa luaran pengabdian masyarakat dosen Widyatama tidak berhenti di atas kertas laporan, melainkan hidup dan berdampak di lapangan.

Panggung Edukasi dan Kolaborasi Lintas Generasi

Kekuatan utama dari program ini terletak pada kolaborasi lintas elemen. Tidak kurang dari 40 seniman dan kru produksi terlibat, termasuk 32 anggota tetap komunitas dan 8 siswa jurusan Teater SMKN 10 Bandung yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL). Bagi institusi pendidikan seperti Widyatama, pelibatan siswa SMK ini adalah bentuk tanggung jawab dalam membina talenta muda sekaligus menciptakan ruang belajar lintas praktik seni yang riil.

Secara artistik, naskah “Nyi Ronggeng” yang ditampilkan pun telah melalui proses kurasi ketat. Mengambil inspirasi dari Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, tim kreatif melakukan penyesuaian agar cerita lebih ringan dan komunikatif bagi penonton urban. Sentuhan inovasi tata kelola pertunjukan juga terlihat dari paduan unsur tari, musik, dan pencak silat yang dinamis di bawah arahan sutradara Hafidz Permana dan tim artistik.

Oleh karena itu, kehadiran Fakultas DKV di tengah masyarakat Cimahi ini menjadi bukti konkret. Universitas Widyatama terus bergerak maju sebagai institusi yang fokus mencetak lulusan profesional dan menjaga keberlanjutan budaya bangsa. Dukungan penuh terhadap pengembangan Longser agar lebih adaptif adalah manifestasi dari visi universitas untuk tetap relevan dan unggul dalam tridarma perguruan tinggi.